Ma Vie

Jika air mata tak cukup lagi menceritakan derita, maka Teriaklah !! Atau tikamlah kata-kata, lalu kumpulkan cecerannya ke dalam kertas-kertas. Biarkan angin berhembus menerbangkannya dan alam raya membacanya , agar ikut berbela sungkawa atas meninggalnya sebuah cerita cinta .

Ma photo
Nom : Shanti
Lieu : Jakarta, Selatan, Indonesia

Je suis la belle femme dans sans regret et j'adore les beau hommes :))

mardi, juin 20, 2006

Cinta...Selalu Denganmu...:)

2006.06.20 ; 17.58

Artist : Melly (featuring Krisdayanti)
Song : Cinta
Album : Intuisi



Menapak jalan yang menjauh
Tentukan arah yang ku mau
Tempatkan aku pada satu peristiwa
Yang membuat hati lara

Di dekat engkau aku tenang
Sendu matamu penuh tanya
Misteri hidup akankah menghilang
Dan bahagia di akhir cerita

Cinta tegarkan hatiku
Tak mau sesuatu merenggut engkau
Naluriku berkata tak ingin terulang lagi
Kehilangan cinta hati bagai raga tak bernyawa

Aku junjung petuahmu
Cintai dia yang mencintaiku
Hati yang dulu berlayar kini telah menepi
Bukankah hidup kita akhirnya harus bahagia

Di dekat engkau aku tenang
Sendu matamu penuh tanya
Misteri hidup akankah menghilang
Dan bahagia di akhir cerita

Cinta tegarkan hatiku
Tak mau sesuatu merenggut engkau
Naluriku berkata tak ingin terulang lagi
Kehilangan cinta hati bagai raga tak bernyawa

Aku junjung petuahmu
Cintai dia yang mencintaiku
Hati yang dulu berlayar kini telah menepi
Bukankah hidup kita akhirnya harus bahagia

Cinta biar saja ada
Yang terjadi biar saja terjadi
Bagaimanapun hidup memang hanya cerita
Cerita tentang meninggalkan dengan yang ditinggalkan

Cinta...

Artist :Tompi
Song : Selalu Denganmu



adakah waktu yang tak berbatas
untukku merasa bahagia
saat-saat aku jatuh cinta
saat ku terbang jauh ke sana

reff:
selalu denganmu
kasihku selamanya
selalu denganmu
cintaku bersama

kaulah matahari dalam hidupku
dan kaulah cahaya bulan di malamku
hadirmu selalu akan ku tunggu
cintamu selalu akan ku rindu

(repeat reff)

tahukah kau diriku
tak sanggup hidup
bila kau jauh dariku
ku ingin di pelukmu selalu...

tahukah kau diriku
tak sanggup hidup
bila kau jauh dariku
ku ingin di pelukmu selalu...

hadirmu selalu akan ku tunggu
cintamu selalu akan ku rindu
dan tiada lagi batas ruang waktu

tahukah kau diriku
tak sanggup hidup
bila kau jauh dariku
ku ingin di pelukmu selalu

oh tuhan tetapkan rasa cintaku ini
hanya untukmu
selalu setia selama-lamanya

tahukah kau diriku
tak sanggup hidup
bila kau jauh dariku

Keunikan Seorang Perempuan...

2006.06.20 ; 14.41

Seorang perempuan yang membaca "keunikan seorang perempuan" ...
mau tak mau mengakui
bahwa ia sedang:
menikmati manisnya kepolosan jiwa,
merasakan kuatnya perhatian dan hangatnya persahabatan,

juga bahwa ia:
Tak mampu meredam luapan perasaan dan emosi diri,
Tak mampu melenyapkan dedikasi,
Tak mampu menelantarkan kekasih hati, tak sanggup mengucap kutuk,

dan bahkan, ia:
amat kuat dan tegar, namun lembut hati,
sekaligus... nakal,
mempesona dan menarik...

Ya, perempuan biasa bisa menjadi apa saja,
sepanjang seorang kekasih membutuhkannya...

Keunikan Seorang Perempuan...

Rasakan kepolosan dari anak perempuanmu
Juga rasakan perhatian dari saudara perempuanmu

Kehangatan persahabatan dari teman perempuanmu
Ada banyak perasaan dan emosi datang dari perempuan yang kamu cintai

Dedikasi yang sangat tinggi dari istrimu sendiri
Ketelatenan dan kesabaran dari seorang ibu
Juga berkat dan doa restu dari seorang nenek

Perempuan...bisa menjadi mahkluk yang amat kuat dan tegar
Dengan segala kelembutan hatinya

Kadang kala kenakalannya yang penuh arti
Membuat kita terpesona dan tertarik padanya

Pehatian dan keterbukaan perempuan adalah segalanya
Penuh melodi indah dari sedih hingga bahagia

Itulah keunikan seorang perempuan...
Ya, seorang perempuan biasa yang bisa menjadi apa saja...

(seorang perempuan yang sedang mencari arti dari segala rasa yang pernah hinggap didirinya)

mardi, juin 13, 2006

Kisruh Media dan Penyelenggara : Pembelajaran bagi kita semua

2006.06.13 ; 18:40

Tim detikINET Terbang Sebagai Penumpang Gelap!

11th June 2006

Amplop Rp 100 Ribu / Hari

Salah satu anggota tim saya (detikINET) diundang berangkat oleh sebuah asosiasi "TI" kenamaan di Indonesia untuk meliput acara workshopnya di Surabaya. Sayangnya, setibanya di sana ternyata dia tak mendapatkan informasi awal yang dibutuhkan, dan cenderung "ditelantarkan" dalam konteks ketersediaan informasi awal. Baik informasi tentang acara itu sendiri maupun informasi tentang fasilitas (akomodasi, transportasi, dll) yang bisa dia gunakan dalam menjalankan kegiatan jurnalistiknya. Sehingga tim saya tersebut benar-benar blank, dengan pertimbangan bahwa banyak yang bisa dikerjakan olehnya di Jakarta apabila saya tidak mengirimnya ke Surabaya.

Sayangnya, begitu saya menyampaikan komplen via SMS langsung kepada para pengurus / pengawas asosiasi "TI" tersebut, mereka menimpalinya dengan berbagai tanggapan negatif. Ada anggapan tim detikINET mulai manja atau menuntut fasilitas. Ada pula yang kemudian menyangka bahwa tim detikINET membanding-bandingkan dengan fasilitas yang didapat oleh sebuah perusahan software kenamaan jika sedang mengundang media. Dan lebih parahnya lagi, bahkan asosiasi "TI" tersebut sampai harus "memaksa" tim saya tersebut untuk menerima amplop sebesar Rp 100 ribu per hari, atas kompensasi komplen saya tersebut.

Awalnya, selaku pribadi saya merasa profesi jurnalistik direndahkan dengan anggapan dan perlakukan asosiasi "TI" tersebut. Wartawan tidak butuh di-"emong", atau didamping terus-menerus oleh escort atau apapun namanya. Yang dibutuhkan hanyalah informasi awal tentang kondisi lapangan. That's enough! Wartawan, termasuk tim detikINET, tidak pernah rewel dengan fasilitas. Tetapi jangan abaikan keberadaan wartawan, seolah-olah mereka tidak ada. Apalagi kalau memang wartawan tersebut datang karena diundang, dan datang karena menghargai pihak pengundang.

Dari sekedar tidur beralaskan karpet tipis hingga di kasur empuk berlapis ala hotel bintang 5, dari makan di pinggir jalan hingga jamuan a la carte senilai jutaan rupiah, sudah menjadi hal yang "biasa-biasa" saja bagi wartawan. Selama perut terisi dan mata bisa memejam barang sejenak, itu sudah cukup. Karena kebutuhan dan tuntutan wartawan adalah satu, informasi dan berita.

Tetapi ada pelajaran yang menarik dari kasus di atas, setelah saya berdiskusi dengan Mas Asydad, Wapemred Detikcom. Ternyata saya sebagai Redaktur Pelaksana juga memiliki andil atas kejadian miskomunikasi di atas. Atas seijin yang bersangkutan, berikut ini saya copy-paste tanggapan dari Mas Asydad melalui YM:

aasydhad: Kita sebelum memberangkatkan Ruri, sudah ngecek ya ke xxxx, dia tidur di mana, acaranya di mana, dll?
donnybu: ndak mas…. karena biasanya undangan resmi dari institusi, itu memang jarang yang detil. cuma dijelaskan, transportasi dan akomodasi ditanggung
aasydhad: nah ini,kemungkinan salah kita juga Don. seharusnya, kita cek dari awal kejelasan, sedetil2nya kepada penyelenggara
donnybu: ya bisa jadi mas…
aasydhad: Aku sebenarnya tidak berani memberangkatkan orang, bila hal2 itu tidak jelas
donnybu: jadi memang itu koreksi buat aku juga lain kali..
donnybu: kebiasaan kalo diundang, kita yakin penyelenggara akan bertanggungjawab. dan memang selama ini ndak pernah ada masalah
aasydhad: ya sih…tapi kalau terjadi apa2, kita akan kelabakan sendiri
aasydhad: yang aku lihat dalam kasus ini…..
aasydhad: 1. Kita kurang cek kejelasan acara dan fasilitas
aasydhad: 2. xxxx melihat tanggapanmu ini secara salah, mispersepsi
aasydhad: ya ini jadi pelajaran bagi kita Don
aasydhad: hal yang seharusnya kecil, tapi jadi masalah
aasydhad: kapan2 kita bahas-lah masalah ini dengan para redpel lain
donnybu: baik mas, terimakasih.

—–

Terbang Sebagai Penumpang Gelap

Ok-lah, masalah di atas kita anggap saja sebagai sebuah miskomunikasi belaka. Tetapi ada satu yang masih mengganjal pikiran saya, seakan asosiasi "TI" tersebut tampaknya belum terbiasa "mengorangkan orang". Hal tersebut lantaran tiket penerbangan ke Surabaya yang diberikan kepada tim detikINET ternyata nama yang tercantum adalah nama milik orang lain (yaitu nama salah seorang pengurus asosiasi "TI" tersebut). Jelas melanggar peraturan pemerintah yang berlaku. Ketika saya komplen tentang hal ini, ternyata cuma "ditertawakan" oleh salah seorang anggota dewan pengawas asosiasi "TI" tersebut, yang notabene adalah sahabat saya juga. Katanya (kurang-lebih) melalui SMS, "toh di Indonesia namanya peraturan memang babak belur".

Saya tidak tahu cara berpikir sahabat saya tersebut. Bagaimana kalau dirinya sendiri (atau anggota keluarganya) yang terbang dengan namanya tak ada dalam tiket, tak ada dalam manifes (daftar penumpang), atau ekstrimnya, dirinya secara formal tak pernah bisa dibuktikan ada di dalam pesawat itu? Masih bisakah dia tertawa?

Kalau seandainya (Alhamdulillah tidak terjadi) pesawat yang ditumpangi terjadi kecelakaan, bagaimana melacak keberadaan tim saya tersebut? Apakah ada bukti untuk mengajukan klaim asuransi bagi dirinya atau keluarganya? Itulah resiko terbang sebagai "penumpang gelap"!

Bisa saja kemudian ada tanggapan sinis, "ya kalau begitu, jangan mau berangkat dari awalnya!". Oh, tidak semudah itu. Pertama, karena saya tidak mendapatkan laporan dari tim saya tentang anomali tiket tersebut. Kalau tahu dari awal, saya pasti melarang dia untuk berangkat, dengan alasan apapun yang diberikan oleh pihak pengundang.

Dan kedua, tim saya tersebut juga tak melaporkan karena dia menyadari bahwa tiket tersebut tak tercantum namanya karena tinggal beberapa saat menjelang keberangkatan pesawat. Karena waktu sudah mepet, dadakan, belum lagi dia tak dalam kapasitas untuk melakukan negosiasi dengan pihak pengundang + menghormati pihak pengundang, maka (beruntunglah) dia sampai dengan selamat di Surabaya.

Saya pun dapat menerima, jika memang pihak detikINET dianggap memiliki andil dalam kesalahan prosedur penerbangan tersebut, karena tidak menolak untuk terbang. Karena memang begitulah adanya.

Nah setibanya di Surabaya tersebutlah, 1 hari kemudiannya, dia mengirimkan SMS yang mempertanyakan kebijakan pihak pengundang terhadap pihak yang diundang. Tanpa berpikir panjang, SMS dia langsung saya forward ke beberapa pengurus dan pengawas asosiasi "TI" tersebut. Dan, seperti telah saya sampaikan di atas, tanggapan yang masuk menjadi beragam, yang rata-rata seolah tak mengerti esensi dari permasalahan yang saya komplen.

Untuk itulah maka kemaren saya mengirimkan e-mail resmi kepada asosiasi "TI" tersebut. Intinya, saya menghargai kerjasama yang telah dilakukan oleh asosiasi "TI" tersebut dengan pihak detikINET. Saya sudah mendapatkan penjelasan dari mereka, dan saya bisa "memahami"-nya dan berharap insiden tersebut di atas tidak akan mengurangi kualitas dan intensitas kerjasama sinergis yang tengah dibangun saat ini.

Tetapi, sekedar catatan, wartawan (termasuk tim detikINET), tak butuh dimanja dengan fasilitas, tetapi kami juga manusia biasa seperti mereka dan Anda, yang butuh ketenangan dan (rasa) aman dalam menuju tempat kerja dan ketika bekerja.

e-Mail Kepada Mereka

Berikut ini adalah e-mail resmi yang saya kirim ke asosiasi "TI" tersebut. e-Mail ini saya publish di blog ini, agar dapat menjadi pelajaran yang berharga bagi semua pihak, tak ada maksud untuk memperpanjang atau membesar-besarkan masalah yang sempat timbul. Karena sejatinya saya mafhum, bahwa semuanya terjadi karena hanyalah lantaran miskomunikasi, tak ada faktor kesengajaan sama sekali antar pihak yang terkait.

Adapun nama asosiasi "TI" tersebut, dalam e-mail di bawah ini, telah saya samarkan, demi kebaikan semua pihak.

Yth. Rekan Pengurus xxxx
di Tempat,


Bersama e-mail ini saya sebagai Redaktur Pelaksana detikINET ingin mengucapkan terimakasih atas undangan yang telah disampaikan kepada tim detikINET untuk meliput kegiatan workshop xxxx di Surabaya beberapa hari lalu. Selain itu saya juga menyampaikan terimakasih atas penjelasan dari beberapa rekan xxxx terkait dengan terjadinya miskomunikasi antara xxxx (Jatim) sebagai penyelenggara kegiatan dengan tim kami di lapangan.

Adapun selanjutnya, dalam e-mail ini pula saya ingin memberikan informasi tentang kedudukan detikINET terkait dengan terjadinya miskomunikasi tersebut. Tujuannya adalah untuk mengantisipasi adanya kekuatiran bahwa detikINET menuntut fasilitas tertentu dari pihak penyelenggara.

Pada intinya, media massa, termasuk detikINET, tak akan pernah menuntut lebih ataupun mengeluhkan atas fasilitas yang diberikan oleh pihak pengundang. Bahkan secara detilnya, tim detikINET sudah terlatih dan terbiasa untuk 'survive' dalam kondisi apapun di lapangan.

Tetapi, sebagaimana sebuah 'tim tempur', yang dibutuhkan oleh tim lapangan sebuah media massa adalah petunjuk atau arahan awal. Informasi inilah yang kemudian ternyata, karena suatu sebab dan lain hal, tak tersampaikan kepada tim detikINET saat meliput aktifitas xxxx di Surabaya.

Tim detikINET kurang mendapatkan informasi yang dibutuhkan, baik yang terkait dengan konteks dan konten acara itu sendiri maupun informasi tentang fasilitas akomodasi dan transportasi. Di sinilah kemudian muncul konteks "ditelantarkan", yang lebih kepada "tak tersedianya informasi", BUKAN "tak tersedianya fasilitas".

Jadi, konteksnya bukan pada soal fasilitas kamar, masalah makan, uang saku, dan lainnya. Tetapi informasi tentang "apa & bagaimana" fasilitas yang dapat dimanfaatkan oleh tim detikINET, itulah yang sebenarnya dibutuhkan. Menanyakan tentang "apa & bagaimana" fasilitas yang tersedia tersebut TIDAK ada kaitannya dengan "menuntut" ketersediaan fasilitas itu sendiri.

Sekedar informasi, tim detikINET setiap melakukan peliputan ke luar kota, selalu (telah) disiapkan (oleh kantor) dengan dana yang cukup untuk operasional sehari-hari. Selain itu, tim detikINET (termasuk Detikcom dan media massa kenamaan lainnya) juga mengharamkan adanya uang saku / transpor dari pihak pengundang (atau biasa disebut dengan istilah 'amplop').

Untuk itu, dengan segala hormat, saya berterimakasih atas niatan baik xxxx memberikan uang saku kepada tim detikINET. Meskipun demikian, saya mohon maaf apabila tim detikINET harus mengembalian uang saku tersebut, baik secara langsung ataupun secara resmi melalui kantor.

Untuk miskomunikasi tersebut di atas, saya sudah menghubungi dan mendapatkan penjelasan langsung dari rekan xx di Surabaya. Secara umum, miskomunikasi sudah dapat diselesaikan dengan baik.

Namun demikian, ada satu hal yang saya yakin kita sepakat untuk tidak tawar-menawar, yaitu soal ketenangan dan keselamatan kerja. Menggunakan layanan penerbangan tanpa menggunakan tiket yang sesuai dengan nama penggunanya, selain melanggar hukum, juga mengakibatkan ketidaktenangan tim detikINET dalam bekerja. Karena jelas, nama tim detikINET tersebut tak akan terdaftar dalam manifes (daftar penumpang).

Memang, profesi wartawan adalah profesi yang penuh resiko. Tetapi tentunya ada 1-2 hal yang secara bersama bisa kita minimalkan resikonya tersebut tanpa harus mengeluarkan 'effort' yang berat. Mudah-mudahan pihak xxxx dapat memahami, bahwa biar bagaimanapun, media/wartawan juga manusia biasa yang berharap dapat pergi menuju tempat kerja dan bekerja dengan tenang dan (rasa) aman.

Meskipun demikian, saya juga dapat memahami pula penjelasan dari pihak xxxx terkait dengan tak tercantumnya nama tim detikINET dalam tiket penerbangan yang digunakan. Mudah-mudahan di lain kesempatan, koordinasi persiapan antara xxxx dengan detikINET untuk acara selanjutnya, bisa lebih matang demi kebaikan bersama.

Sekali lagi, terimakasih atas penjelasan dari rekan-rekan xxxx. Dan mudah-mudahan rekan-rekan xxxx juga dapat memahami posisi detikINET seperti tersebut di atas.

nb:
Sekedar informasi, tim detikINET yang sedang meliput di Surabaya terhitung pagi ini, Sabtu (10/6/2006) telah saya tarik kembali ke Jakarta. Penarikan tersebut tak ada kaitannya dengan terjadinya miskomunikasi di atas. Yang bersangkutan ditarik kembali untuk rapat internal sekaligus memperkuat formasi tim piket di Jakarta. Pun malam hari sebelumnya, saya telah minta kepada yang bersangkutan untuk lebih aktif berkeliling kota Surabaya memantau aktifitas masyarakat setempat terkait dengan demam Piala Dunia 2006.


Terimakasih atas perhatiannya.
Hormat kami,
Ttd.


Donny B.U.
Redaktur Pelaksana
detikINET

-dbu-

lundi, juin 12, 2006

Apakah Anda Penyabar ?

2006.06.12 ; 16:45

Kesabaran adalah sebuah proses, membutuhkan latihan serta perjuangan.
Orang yang masuk dalam proses kesabaran, emosinya semakin hari akan semakin baik. kesabaran membutuhkan perjuangan dan pengorbanan. Orang yang sabar, biasanya akan diberi masalah yang dapat membuat tidak sabar. Itu adalah hal yang normal karena itulah pencobaannya. Orang yang berlatih tinju, pasti akan diberi sparing partner untuk melatihnya supaya ia dapat menjadi petinju yang handal dan dapat menaklukKan musuhnya, demikian juga dengan kita, dilatih melalui berbagai pencobaan supaya dapat menjadi seorang yang sabar.


Setiap orang bisa sabar namun tidak otomatis
(bedakan antara sabar dengan diam).
Orang diam itu belum tentu seorang yang sabar, kadangkala justru "makan di hati" artinya masalahnya atau kesalahan orang lain dipendamnya di dalam hati. Tetapi sebaliknya seorang yang banyak bicara belum tentu dia seorang yang tidak sabar tetapi memang itulah adanya dia.


Kesabaran itu selalu baik.
Ada orang yang berpikir sabar itu tidak baik, sehingga sering berkata pada sesamanya, "kamu sih terlalu sabar, makanya diinjak-injak orang lain." Jelas pandangan itu sangat keliru, sebab kesabaran itu pasti baik.


ORANG - ORANG YANG TIDAK SABAR

1. Orang yang tidak mau.

Orang yang tidak sabar adalah seorang yang memang tidak mau menjadi sabar, walaupun dinasihati, diajar untuk sabar tetap tidak bisa. Ini artinya kesabaran itu sangat membutuhkan kemauan untuk menjadi seorang yang sabar.

2. Orang yang tidak berpikir panjang.

Seorang yang berpikiran "pendek", kalau ada masalah dengan suami/istri, yang ada dipikirannya bercerai, karena memang pikirannya "pendek" dan orang yang berpikiran "pendek" ini pastilah seorang tidak sabar, sebab orang sabar pasti berpikiran "panjang" dan tidak mau mengambil jalan pintas untuk menyelesaikan masalahnya.

3. Orang yang belum dilepaskan dari yang jahat.

Sesorang yang masih terikat dengan hal-hal magis, sifat-sifat buruk, memang kesannya berusaha untuk menjadi sabar, tetapi tetap saja disaat-saat tertentu emosinya muncul dan susah dikendalikan, karena memang kejahatan itu erat kaitannya dengan ketidaksabaran.


Jadi tetaplah sabar senantiasa :)