Kisruh Media dan Penyelenggara : Pembelajaran bagi kita semua
2006.06.13 ; 18:40
Tim detikINET Terbang Sebagai Penumpang Gelap!
11th June 2006
Amplop Rp 100 Ribu / Hari
Salah satu anggota tim saya (detikINET) diundang berangkat oleh sebuah asosiasi "TI" kenamaan di Indonesia untuk meliput acara workshopnya di Surabaya. Sayangnya, setibanya di sana ternyata dia tak mendapatkan informasi awal yang dibutuhkan, dan cenderung "ditelantarkan" dalam konteks ketersediaan informasi awal. Baik informasi tentang acara itu sendiri maupun informasi tentang fasilitas (akomodasi, transportasi, dll) yang bisa dia gunakan dalam menjalankan kegiatan jurnalistiknya. Sehingga tim saya tersebut benar-benar blank, dengan pertimbangan bahwa banyak yang bisa dikerjakan olehnya di Jakarta apabila saya tidak mengirimnya ke Surabaya.
Sayangnya, begitu saya menyampaikan komplen via SMS langsung kepada para pengurus / pengawas asosiasi "TI" tersebut, mereka menimpalinya dengan berbagai tanggapan negatif. Ada anggapan tim detikINET mulai manja atau menuntut fasilitas. Ada pula yang kemudian menyangka bahwa tim detikINET membanding-bandingkan dengan fasilitas yang didapat oleh sebuah perusahan software kenamaan jika sedang mengundang media. Dan lebih parahnya lagi, bahkan asosiasi "TI" tersebut sampai harus "memaksa" tim saya tersebut untuk menerima amplop sebesar Rp 100 ribu per hari, atas kompensasi komplen saya tersebut.
Awalnya, selaku pribadi saya merasa profesi jurnalistik direndahkan dengan anggapan dan perlakukan asosiasi "TI" tersebut. Wartawan tidak butuh di-"emong", atau didamping terus-menerus oleh escort atau apapun namanya. Yang dibutuhkan hanyalah informasi awal tentang kondisi lapangan. That's enough! Wartawan, termasuk tim detikINET, tidak pernah rewel dengan fasilitas. Tetapi jangan abaikan keberadaan wartawan, seolah-olah mereka tidak ada. Apalagi kalau memang wartawan tersebut datang karena diundang, dan datang karena menghargai pihak pengundang.
Dari sekedar tidur beralaskan karpet tipis hingga di kasur empuk berlapis ala hotel bintang 5, dari makan di pinggir jalan hingga jamuan a la carte senilai jutaan rupiah, sudah menjadi hal yang "biasa-biasa" saja bagi wartawan. Selama perut terisi dan mata bisa memejam barang sejenak, itu sudah cukup. Karena kebutuhan dan tuntutan wartawan adalah satu, informasi dan berita.
Tetapi ada pelajaran yang menarik dari kasus di atas, setelah saya berdiskusi dengan Mas Asydad, Wapemred Detikcom. Ternyata saya sebagai Redaktur Pelaksana juga memiliki andil atas kejadian miskomunikasi di atas. Atas seijin yang bersangkutan, berikut ini saya copy-paste tanggapan dari Mas Asydad melalui YM:
aasydhad: Kita sebelum memberangkatkan Ruri, sudah ngecek ya ke xxxx, dia tidur di mana, acaranya di mana, dll?
donnybu: ndak mas…. karena biasanya undangan resmi dari institusi, itu memang jarang yang detil. cuma dijelaskan, transportasi dan akomodasi ditanggung
aasydhad: nah ini,kemungkinan salah kita juga Don. seharusnya, kita cek dari awal kejelasan, sedetil2nya kepada penyelenggara
donnybu: ya bisa jadi mas…
aasydhad: Aku sebenarnya tidak berani memberangkatkan orang, bila hal2 itu tidak jelas
donnybu: jadi memang itu koreksi buat aku juga lain kali..
donnybu: kebiasaan kalo diundang, kita yakin penyelenggara akan bertanggungjawab. dan memang selama ini ndak pernah ada masalah
aasydhad: ya sih…tapi kalau terjadi apa2, kita akan kelabakan sendiri
aasydhad: yang aku lihat dalam kasus ini…..
aasydhad: 1. Kita kurang cek kejelasan acara dan fasilitas
aasydhad: 2. xxxx melihat tanggapanmu ini secara salah, mispersepsi
aasydhad: ya ini jadi pelajaran bagi kita Don
aasydhad: hal yang seharusnya kecil, tapi jadi masalah
aasydhad: kapan2 kita bahas-lah masalah ini dengan para redpel lain
donnybu: baik mas, terimakasih.
—–
Terbang Sebagai Penumpang Gelap
Ok-lah, masalah di atas kita anggap saja sebagai sebuah miskomunikasi belaka. Tetapi ada satu yang masih mengganjal pikiran saya, seakan asosiasi "TI" tersebut tampaknya belum terbiasa "mengorangkan orang". Hal tersebut lantaran tiket penerbangan ke Surabaya yang diberikan kepada tim detikINET ternyata nama yang tercantum adalah nama milik orang lain (yaitu nama salah seorang pengurus asosiasi "TI" tersebut). Jelas melanggar peraturan pemerintah yang berlaku. Ketika saya komplen tentang hal ini, ternyata cuma "ditertawakan" oleh salah seorang anggota dewan pengawas asosiasi "TI" tersebut, yang notabene adalah sahabat saya juga. Katanya (kurang-lebih) melalui SMS, "toh di Indonesia namanya peraturan memang babak belur".
Saya tidak tahu cara berpikir sahabat saya tersebut. Bagaimana kalau dirinya sendiri (atau anggota keluarganya) yang terbang dengan namanya tak ada dalam tiket, tak ada dalam manifes (daftar penumpang), atau ekstrimnya, dirinya secara formal tak pernah bisa dibuktikan ada di dalam pesawat itu? Masih bisakah dia tertawa?
Kalau seandainya (Alhamdulillah tidak terjadi) pesawat yang ditumpangi terjadi kecelakaan, bagaimana melacak keberadaan tim saya tersebut? Apakah ada bukti untuk mengajukan klaim asuransi bagi dirinya atau keluarganya? Itulah resiko terbang sebagai "penumpang gelap"!
Bisa saja kemudian ada tanggapan sinis, "ya kalau begitu, jangan mau berangkat dari awalnya!". Oh, tidak semudah itu. Pertama, karena saya tidak mendapatkan laporan dari tim saya tentang anomali tiket tersebut. Kalau tahu dari awal, saya pasti melarang dia untuk berangkat, dengan alasan apapun yang diberikan oleh pihak pengundang.
Dan kedua, tim saya tersebut juga tak melaporkan karena dia menyadari bahwa tiket tersebut tak tercantum namanya karena tinggal beberapa saat menjelang keberangkatan pesawat. Karena waktu sudah mepet, dadakan, belum lagi dia tak dalam kapasitas untuk melakukan negosiasi dengan pihak pengundang + menghormati pihak pengundang, maka (beruntunglah) dia sampai dengan selamat di Surabaya.
Saya pun dapat menerima, jika memang pihak detikINET dianggap memiliki andil dalam kesalahan prosedur penerbangan tersebut, karena tidak menolak untuk terbang. Karena memang begitulah adanya.
Nah setibanya di Surabaya tersebutlah, 1 hari kemudiannya, dia mengirimkan SMS yang mempertanyakan kebijakan pihak pengundang terhadap pihak yang diundang. Tanpa berpikir panjang, SMS dia langsung saya forward ke beberapa pengurus dan pengawas asosiasi "TI" tersebut. Dan, seperti telah saya sampaikan di atas, tanggapan yang masuk menjadi beragam, yang rata-rata seolah tak mengerti esensi dari permasalahan yang saya komplen.
Untuk itulah maka kemaren saya mengirimkan e-mail resmi kepada asosiasi "TI" tersebut. Intinya, saya menghargai kerjasama yang telah dilakukan oleh asosiasi "TI" tersebut dengan pihak detikINET. Saya sudah mendapatkan penjelasan dari mereka, dan saya bisa "memahami"-nya dan berharap insiden tersebut di atas tidak akan mengurangi kualitas dan intensitas kerjasama sinergis yang tengah dibangun saat ini.
Tetapi, sekedar catatan, wartawan (termasuk tim detikINET), tak butuh dimanja dengan fasilitas, tetapi kami juga manusia biasa seperti mereka dan Anda, yang butuh ketenangan dan (rasa) aman dalam menuju tempat kerja dan ketika bekerja.
e-Mail Kepada Mereka
Berikut ini adalah e-mail resmi yang saya kirim ke asosiasi "TI" tersebut. e-Mail ini saya publish di blog ini, agar dapat menjadi pelajaran yang berharga bagi semua pihak, tak ada maksud untuk memperpanjang atau membesar-besarkan masalah yang sempat timbul. Karena sejatinya saya mafhum, bahwa semuanya terjadi karena hanyalah lantaran miskomunikasi, tak ada faktor kesengajaan sama sekali antar pihak yang terkait.
Adapun nama asosiasi "TI" tersebut, dalam e-mail di bawah ini, telah saya samarkan, demi kebaikan semua pihak.
Yth. Rekan Pengurus xxxx
di Tempat,
Bersama e-mail ini saya sebagai Redaktur Pelaksana detikINET ingin mengucapkan terimakasih atas undangan yang telah disampaikan kepada tim detikINET untuk meliput kegiatan workshop xxxx di Surabaya beberapa hari lalu. Selain itu saya juga menyampaikan terimakasih atas penjelasan dari beberapa rekan xxxx terkait dengan terjadinya miskomunikasi antara xxxx (Jatim) sebagai penyelenggara kegiatan dengan tim kami di lapangan.
Adapun selanjutnya, dalam e-mail ini pula saya ingin memberikan informasi tentang kedudukan detikINET terkait dengan terjadinya miskomunikasi tersebut. Tujuannya adalah untuk mengantisipasi adanya kekuatiran bahwa detikINET menuntut fasilitas tertentu dari pihak penyelenggara.
Pada intinya, media massa, termasuk detikINET, tak akan pernah menuntut lebih ataupun mengeluhkan atas fasilitas yang diberikan oleh pihak pengundang. Bahkan secara detilnya, tim detikINET sudah terlatih dan terbiasa untuk 'survive' dalam kondisi apapun di lapangan.
Tetapi, sebagaimana sebuah 'tim tempur', yang dibutuhkan oleh tim lapangan sebuah media massa adalah petunjuk atau arahan awal. Informasi inilah yang kemudian ternyata, karena suatu sebab dan lain hal, tak tersampaikan kepada tim detikINET saat meliput aktifitas xxxx di Surabaya.
Tim detikINET kurang mendapatkan informasi yang dibutuhkan, baik yang terkait dengan konteks dan konten acara itu sendiri maupun informasi tentang fasilitas akomodasi dan transportasi. Di sinilah kemudian muncul konteks "ditelantarkan", yang lebih kepada "tak tersedianya informasi", BUKAN "tak tersedianya fasilitas".
Jadi, konteksnya bukan pada soal fasilitas kamar, masalah makan, uang saku, dan lainnya. Tetapi informasi tentang "apa & bagaimana" fasilitas yang dapat dimanfaatkan oleh tim detikINET, itulah yang sebenarnya dibutuhkan. Menanyakan tentang "apa & bagaimana" fasilitas yang tersedia tersebut TIDAK ada kaitannya dengan "menuntut" ketersediaan fasilitas itu sendiri.
Sekedar informasi, tim detikINET setiap melakukan peliputan ke luar kota, selalu (telah) disiapkan (oleh kantor) dengan dana yang cukup untuk operasional sehari-hari. Selain itu, tim detikINET (termasuk Detikcom dan media massa kenamaan lainnya) juga mengharamkan adanya uang saku / transpor dari pihak pengundang (atau biasa disebut dengan istilah 'amplop').
Untuk itu, dengan segala hormat, saya berterimakasih atas niatan baik xxxx memberikan uang saku kepada tim detikINET. Meskipun demikian, saya mohon maaf apabila tim detikINET harus mengembalian uang saku tersebut, baik secara langsung ataupun secara resmi melalui kantor.
Untuk miskomunikasi tersebut di atas, saya sudah menghubungi dan mendapatkan penjelasan langsung dari rekan xx di Surabaya. Secara umum, miskomunikasi sudah dapat diselesaikan dengan baik.
Namun demikian, ada satu hal yang saya yakin kita sepakat untuk tidak tawar-menawar, yaitu soal ketenangan dan keselamatan kerja. Menggunakan layanan penerbangan tanpa menggunakan tiket yang sesuai dengan nama penggunanya, selain melanggar hukum, juga mengakibatkan ketidaktenangan tim detikINET dalam bekerja. Karena jelas, nama tim detikINET tersebut tak akan terdaftar dalam manifes (daftar penumpang).
Memang, profesi wartawan adalah profesi yang penuh resiko. Tetapi tentunya ada 1-2 hal yang secara bersama bisa kita minimalkan resikonya tersebut tanpa harus mengeluarkan 'effort' yang berat. Mudah-mudahan pihak xxxx dapat memahami, bahwa biar bagaimanapun, media/wartawan juga manusia biasa yang berharap dapat pergi menuju tempat kerja dan bekerja dengan tenang dan (rasa) aman.
Meskipun demikian, saya juga dapat memahami pula penjelasan dari pihak xxxx terkait dengan tak tercantumnya nama tim detikINET dalam tiket penerbangan yang digunakan. Mudah-mudahan di lain kesempatan, koordinasi persiapan antara xxxx dengan detikINET untuk acara selanjutnya, bisa lebih matang demi kebaikan bersama.
Sekali lagi, terimakasih atas penjelasan dari rekan-rekan xxxx. Dan mudah-mudahan rekan-rekan xxxx juga dapat memahami posisi detikINET seperti tersebut di atas.
nb:
Sekedar informasi, tim detikINET yang sedang meliput di Surabaya terhitung pagi ini, Sabtu (10/6/2006) telah saya tarik kembali ke Jakarta. Penarikan tersebut tak ada kaitannya dengan terjadinya miskomunikasi di atas. Yang bersangkutan ditarik kembali untuk rapat internal sekaligus memperkuat formasi tim piket di Jakarta. Pun malam hari sebelumnya, saya telah minta kepada yang bersangkutan untuk lebih aktif berkeliling kota Surabaya memantau aktifitas masyarakat setempat terkait dengan demam Piala Dunia 2006.
Terimakasih atas perhatiannya.
Hormat kami,
Ttd.
Donny B.U.
Redaktur Pelaksana
detikINET
-dbu-
Tim detikINET Terbang Sebagai Penumpang Gelap!
11th June 2006
Amplop Rp 100 Ribu / Hari
Salah satu anggota tim saya (detikINET) diundang berangkat oleh sebuah asosiasi "TI" kenamaan di Indonesia untuk meliput acara workshopnya di Surabaya. Sayangnya, setibanya di sana ternyata dia tak mendapatkan informasi awal yang dibutuhkan, dan cenderung "ditelantarkan" dalam konteks ketersediaan informasi awal. Baik informasi tentang acara itu sendiri maupun informasi tentang fasilitas (akomodasi, transportasi, dll) yang bisa dia gunakan dalam menjalankan kegiatan jurnalistiknya. Sehingga tim saya tersebut benar-benar blank, dengan pertimbangan bahwa banyak yang bisa dikerjakan olehnya di Jakarta apabila saya tidak mengirimnya ke Surabaya.
Sayangnya, begitu saya menyampaikan komplen via SMS langsung kepada para pengurus / pengawas asosiasi "TI" tersebut, mereka menimpalinya dengan berbagai tanggapan negatif. Ada anggapan tim detikINET mulai manja atau menuntut fasilitas. Ada pula yang kemudian menyangka bahwa tim detikINET membanding-bandingkan dengan fasilitas yang didapat oleh sebuah perusahan software kenamaan jika sedang mengundang media. Dan lebih parahnya lagi, bahkan asosiasi "TI" tersebut sampai harus "memaksa" tim saya tersebut untuk menerima amplop sebesar Rp 100 ribu per hari, atas kompensasi komplen saya tersebut.
Awalnya, selaku pribadi saya merasa profesi jurnalistik direndahkan dengan anggapan dan perlakukan asosiasi "TI" tersebut. Wartawan tidak butuh di-"emong", atau didamping terus-menerus oleh escort atau apapun namanya. Yang dibutuhkan hanyalah informasi awal tentang kondisi lapangan. That's enough! Wartawan, termasuk tim detikINET, tidak pernah rewel dengan fasilitas. Tetapi jangan abaikan keberadaan wartawan, seolah-olah mereka tidak ada. Apalagi kalau memang wartawan tersebut datang karena diundang, dan datang karena menghargai pihak pengundang.
Dari sekedar tidur beralaskan karpet tipis hingga di kasur empuk berlapis ala hotel bintang 5, dari makan di pinggir jalan hingga jamuan a la carte senilai jutaan rupiah, sudah menjadi hal yang "biasa-biasa" saja bagi wartawan. Selama perut terisi dan mata bisa memejam barang sejenak, itu sudah cukup. Karena kebutuhan dan tuntutan wartawan adalah satu, informasi dan berita.
Tetapi ada pelajaran yang menarik dari kasus di atas, setelah saya berdiskusi dengan Mas Asydad, Wapemred Detikcom. Ternyata saya sebagai Redaktur Pelaksana juga memiliki andil atas kejadian miskomunikasi di atas. Atas seijin yang bersangkutan, berikut ini saya copy-paste tanggapan dari Mas Asydad melalui YM:
aasydhad: Kita sebelum memberangkatkan Ruri, sudah ngecek ya ke xxxx, dia tidur di mana, acaranya di mana, dll?
donnybu: ndak mas…. karena biasanya undangan resmi dari institusi, itu memang jarang yang detil. cuma dijelaskan, transportasi dan akomodasi ditanggung
aasydhad: nah ini,kemungkinan salah kita juga Don. seharusnya, kita cek dari awal kejelasan, sedetil2nya kepada penyelenggara
donnybu: ya bisa jadi mas…
aasydhad: Aku sebenarnya tidak berani memberangkatkan orang, bila hal2 itu tidak jelas
donnybu: jadi memang itu koreksi buat aku juga lain kali..
donnybu: kebiasaan kalo diundang, kita yakin penyelenggara akan bertanggungjawab. dan memang selama ini ndak pernah ada masalah
aasydhad: ya sih…tapi kalau terjadi apa2, kita akan kelabakan sendiri
aasydhad: yang aku lihat dalam kasus ini…..
aasydhad: 1. Kita kurang cek kejelasan acara dan fasilitas
aasydhad: 2. xxxx melihat tanggapanmu ini secara salah, mispersepsi
aasydhad: ya ini jadi pelajaran bagi kita Don
aasydhad: hal yang seharusnya kecil, tapi jadi masalah
aasydhad: kapan2 kita bahas-lah masalah ini dengan para redpel lain
donnybu: baik mas, terimakasih.
—–
Terbang Sebagai Penumpang Gelap
Ok-lah, masalah di atas kita anggap saja sebagai sebuah miskomunikasi belaka. Tetapi ada satu yang masih mengganjal pikiran saya, seakan asosiasi "TI" tersebut tampaknya belum terbiasa "mengorangkan orang". Hal tersebut lantaran tiket penerbangan ke Surabaya yang diberikan kepada tim detikINET ternyata nama yang tercantum adalah nama milik orang lain (yaitu nama salah seorang pengurus asosiasi "TI" tersebut). Jelas melanggar peraturan pemerintah yang berlaku. Ketika saya komplen tentang hal ini, ternyata cuma "ditertawakan" oleh salah seorang anggota dewan pengawas asosiasi "TI" tersebut, yang notabene adalah sahabat saya juga. Katanya (kurang-lebih) melalui SMS, "toh di Indonesia namanya peraturan memang babak belur".
Saya tidak tahu cara berpikir sahabat saya tersebut. Bagaimana kalau dirinya sendiri (atau anggota keluarganya) yang terbang dengan namanya tak ada dalam tiket, tak ada dalam manifes (daftar penumpang), atau ekstrimnya, dirinya secara formal tak pernah bisa dibuktikan ada di dalam pesawat itu? Masih bisakah dia tertawa?
Kalau seandainya (Alhamdulillah tidak terjadi) pesawat yang ditumpangi terjadi kecelakaan, bagaimana melacak keberadaan tim saya tersebut? Apakah ada bukti untuk mengajukan klaim asuransi bagi dirinya atau keluarganya? Itulah resiko terbang sebagai "penumpang gelap"!
Bisa saja kemudian ada tanggapan sinis, "ya kalau begitu, jangan mau berangkat dari awalnya!". Oh, tidak semudah itu. Pertama, karena saya tidak mendapatkan laporan dari tim saya tentang anomali tiket tersebut. Kalau tahu dari awal, saya pasti melarang dia untuk berangkat, dengan alasan apapun yang diberikan oleh pihak pengundang.
Dan kedua, tim saya tersebut juga tak melaporkan karena dia menyadari bahwa tiket tersebut tak tercantum namanya karena tinggal beberapa saat menjelang keberangkatan pesawat. Karena waktu sudah mepet, dadakan, belum lagi dia tak dalam kapasitas untuk melakukan negosiasi dengan pihak pengundang + menghormati pihak pengundang, maka (beruntunglah) dia sampai dengan selamat di Surabaya.
Saya pun dapat menerima, jika memang pihak detikINET dianggap memiliki andil dalam kesalahan prosedur penerbangan tersebut, karena tidak menolak untuk terbang. Karena memang begitulah adanya.
Nah setibanya di Surabaya tersebutlah, 1 hari kemudiannya, dia mengirimkan SMS yang mempertanyakan kebijakan pihak pengundang terhadap pihak yang diundang. Tanpa berpikir panjang, SMS dia langsung saya forward ke beberapa pengurus dan pengawas asosiasi "TI" tersebut. Dan, seperti telah saya sampaikan di atas, tanggapan yang masuk menjadi beragam, yang rata-rata seolah tak mengerti esensi dari permasalahan yang saya komplen.
Untuk itulah maka kemaren saya mengirimkan e-mail resmi kepada asosiasi "TI" tersebut. Intinya, saya menghargai kerjasama yang telah dilakukan oleh asosiasi "TI" tersebut dengan pihak detikINET. Saya sudah mendapatkan penjelasan dari mereka, dan saya bisa "memahami"-nya dan berharap insiden tersebut di atas tidak akan mengurangi kualitas dan intensitas kerjasama sinergis yang tengah dibangun saat ini.
Tetapi, sekedar catatan, wartawan (termasuk tim detikINET), tak butuh dimanja dengan fasilitas, tetapi kami juga manusia biasa seperti mereka dan Anda, yang butuh ketenangan dan (rasa) aman dalam menuju tempat kerja dan ketika bekerja.
e-Mail Kepada Mereka
Berikut ini adalah e-mail resmi yang saya kirim ke asosiasi "TI" tersebut. e-Mail ini saya publish di blog ini, agar dapat menjadi pelajaran yang berharga bagi semua pihak, tak ada maksud untuk memperpanjang atau membesar-besarkan masalah yang sempat timbul. Karena sejatinya saya mafhum, bahwa semuanya terjadi karena hanyalah lantaran miskomunikasi, tak ada faktor kesengajaan sama sekali antar pihak yang terkait.
Adapun nama asosiasi "TI" tersebut, dalam e-mail di bawah ini, telah saya samarkan, demi kebaikan semua pihak.
Yth. Rekan Pengurus xxxx
di Tempat,
Bersama e-mail ini saya sebagai Redaktur Pelaksana detikINET ingin mengucapkan terimakasih atas undangan yang telah disampaikan kepada tim detikINET untuk meliput kegiatan workshop xxxx di Surabaya beberapa hari lalu. Selain itu saya juga menyampaikan terimakasih atas penjelasan dari beberapa rekan xxxx terkait dengan terjadinya miskomunikasi antara xxxx (Jatim) sebagai penyelenggara kegiatan dengan tim kami di lapangan.
Adapun selanjutnya, dalam e-mail ini pula saya ingin memberikan informasi tentang kedudukan detikINET terkait dengan terjadinya miskomunikasi tersebut. Tujuannya adalah untuk mengantisipasi adanya kekuatiran bahwa detikINET menuntut fasilitas tertentu dari pihak penyelenggara.
Pada intinya, media massa, termasuk detikINET, tak akan pernah menuntut lebih ataupun mengeluhkan atas fasilitas yang diberikan oleh pihak pengundang. Bahkan secara detilnya, tim detikINET sudah terlatih dan terbiasa untuk 'survive' dalam kondisi apapun di lapangan.
Tetapi, sebagaimana sebuah 'tim tempur', yang dibutuhkan oleh tim lapangan sebuah media massa adalah petunjuk atau arahan awal. Informasi inilah yang kemudian ternyata, karena suatu sebab dan lain hal, tak tersampaikan kepada tim detikINET saat meliput aktifitas xxxx di Surabaya.
Tim detikINET kurang mendapatkan informasi yang dibutuhkan, baik yang terkait dengan konteks dan konten acara itu sendiri maupun informasi tentang fasilitas akomodasi dan transportasi. Di sinilah kemudian muncul konteks "ditelantarkan", yang lebih kepada "tak tersedianya informasi", BUKAN "tak tersedianya fasilitas".
Jadi, konteksnya bukan pada soal fasilitas kamar, masalah makan, uang saku, dan lainnya. Tetapi informasi tentang "apa & bagaimana" fasilitas yang dapat dimanfaatkan oleh tim detikINET, itulah yang sebenarnya dibutuhkan. Menanyakan tentang "apa & bagaimana" fasilitas yang tersedia tersebut TIDAK ada kaitannya dengan "menuntut" ketersediaan fasilitas itu sendiri.
Sekedar informasi, tim detikINET setiap melakukan peliputan ke luar kota, selalu (telah) disiapkan (oleh kantor) dengan dana yang cukup untuk operasional sehari-hari. Selain itu, tim detikINET (termasuk Detikcom dan media massa kenamaan lainnya) juga mengharamkan adanya uang saku / transpor dari pihak pengundang (atau biasa disebut dengan istilah 'amplop').
Untuk itu, dengan segala hormat, saya berterimakasih atas niatan baik xxxx memberikan uang saku kepada tim detikINET. Meskipun demikian, saya mohon maaf apabila tim detikINET harus mengembalian uang saku tersebut, baik secara langsung ataupun secara resmi melalui kantor.
Untuk miskomunikasi tersebut di atas, saya sudah menghubungi dan mendapatkan penjelasan langsung dari rekan xx di Surabaya. Secara umum, miskomunikasi sudah dapat diselesaikan dengan baik.
Namun demikian, ada satu hal yang saya yakin kita sepakat untuk tidak tawar-menawar, yaitu soal ketenangan dan keselamatan kerja. Menggunakan layanan penerbangan tanpa menggunakan tiket yang sesuai dengan nama penggunanya, selain melanggar hukum, juga mengakibatkan ketidaktenangan tim detikINET dalam bekerja. Karena jelas, nama tim detikINET tersebut tak akan terdaftar dalam manifes (daftar penumpang).
Memang, profesi wartawan adalah profesi yang penuh resiko. Tetapi tentunya ada 1-2 hal yang secara bersama bisa kita minimalkan resikonya tersebut tanpa harus mengeluarkan 'effort' yang berat. Mudah-mudahan pihak xxxx dapat memahami, bahwa biar bagaimanapun, media/wartawan juga manusia biasa yang berharap dapat pergi menuju tempat kerja dan bekerja dengan tenang dan (rasa) aman.
Meskipun demikian, saya juga dapat memahami pula penjelasan dari pihak xxxx terkait dengan tak tercantumnya nama tim detikINET dalam tiket penerbangan yang digunakan. Mudah-mudahan di lain kesempatan, koordinasi persiapan antara xxxx dengan detikINET untuk acara selanjutnya, bisa lebih matang demi kebaikan bersama.
Sekali lagi, terimakasih atas penjelasan dari rekan-rekan xxxx. Dan mudah-mudahan rekan-rekan xxxx juga dapat memahami posisi detikINET seperti tersebut di atas.
nb:
Sekedar informasi, tim detikINET yang sedang meliput di Surabaya terhitung pagi ini, Sabtu (10/6/2006) telah saya tarik kembali ke Jakarta. Penarikan tersebut tak ada kaitannya dengan terjadinya miskomunikasi di atas. Yang bersangkutan ditarik kembali untuk rapat internal sekaligus memperkuat formasi tim piket di Jakarta. Pun malam hari sebelumnya, saya telah minta kepada yang bersangkutan untuk lebih aktif berkeliling kota Surabaya memantau aktifitas masyarakat setempat terkait dengan demam Piala Dunia 2006.
Terimakasih atas perhatiannya.
Hormat kami,
Ttd.
Donny B.U.
Redaktur Pelaksana
detikINET
-dbu-


0 Comments:
Enregistrer un commentaire
Links to this post:
Créer un lien
<< Home